Pilkada Jakarta, Pilkada Tak Terduga
![]() |
| Sumber : KPUD Jakarta |
Pilkada
Jakarta 2024 menjadi pilkada yang berbeda setelah keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi
No. 60 yang membolehkan partai politik atau gabungan partai politik untuk
mencalonkan kepala daerah dari 20 persen perolehan suara menjadi 6,5 persen
hingga 10 persen.
Jika
sebelumnya pasangan Ridwan Kamil-Suswono yang didukung koalisi besar KIM plus seperti
melaju sendirian, meski harus menghadapi pasangan independen Dharma
Pongrekun-Kun Wardana, kini mendapatkan lawan dari pasangan calon dari PDI-P.
Ridwan
Kamil sendiri adalah mantan gubernur Jawa Barat dan Walikota Bandung. Seorang arsitek
dan pakar tata kota yang berpasangan dengan Suswono seorang insinyur pertanian lulusan
Institut Pertanian Bogor dan mantan Mentri Pertanian di Era Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono.
PDI-P
sebelumnya harus mencari koalisi, kini bisa berjalan sendirian untuk mecalonkan
kadernya dalam pilkada Jakarta. Untuk menghadapi Ridwan Kamil dam Suswono
sempat beredar kabar bahwa PDI-P akan mencalonkan Ahok atau Anis Baswedan
karena secara survey kedua orang tersebut selalu tertinggi dibanding calon
lainya. Tetapi keputusan ketua umum PDI-P, Megawati Sukarnoputri, diluar
ekspektasi semua orang, Dia memilih Pramono Anung dan Rano Karno untuk menjadi
pasangan calon gubernur dan wakil gubernur.
Sedangkan dari
pasangan independen Darma Pongrekun adalah purnawirawan jenderal polisi bintang
tiga bergandengan dengan dengan Kun Wardana yang dahulu dikenal sebagai anak
cerdas pada era 80an.
Awalnya
pencalonan Pramono Anung mengundang pesimisme dari banyak orang karena hanya
mendapat kurang dari satu persen menurut hasil survey. Pramono Anung sebagai
politisi senior PDI-P tentu bukan tokoh sembarangan, selain pernah menjabat
wakil ketua DPR RI, dia juga masih menjabat Sekretaris Kabinet (saat
dicalonkan) sedangkan pasangannya Rano Karno adalah mantan gubernur Banten.
Mental politisi
senior PDI-P memang sedang diuji ketangguhanya. Pramono dan Rano langsung kerja
keras setelah ditunjuk menjadi calon Gubernur Jakarta. Tetapi ada sesuatu yang kocak
saat Lies Hartono atau Cak Lontong ditunjuk menjadi ketua tim sukses Pramono-Rano.
Meski seorang komedian tapi Cak Lontong adalah seorang seorang yang tidak bisa
diremehkan secara intelektual dan pengaturan strategi
Berbeda dengan
Pramono-Rano, pasangan Ridwan Kamil-Suswono memasang Ahmad Riza Patria menjadi
ketua tim sukses. Riza Patria adalah politisi senior Gerindra sekalgus mantan
wakil gubernur Jakarta. Sedangkan Darma Pongrekun-Kun Wardana memilih Siti
Fadilah Supari, mantan Mentri Kesehatan, sebagai ketua tim sukses.
Tensi
politik jakarta mulai panas kerena Jakarta menjadi barometer politik Indonesia.
Beragam isu dan progran digulirkan masing-masing paslon, sehingga jika ada isu
yang menjadi bola liar akan disambut dan ditiup untuk menjatuhkan lawan,
seperti isu janda kaya yang menikahi pemuda miskin yang dilontarkan Suswono
langsung dijadikan bola panas yang dibawa hingga dijadikan sebagai isu
penistaan agama.
Pernyataan dukung-mendukung
dari berbagai elemen masyarakat dan kelompok masyarakat juga mewarnai pilkada Jakarta
kali ini. Belum lagi isu Jakmania (Persija) dan Bobotoh (Persib) yang selama
ini selalu berseberangan dalam persepakbolaan tanah air. Dimana Ridwan Kamil
identik dengan Bobotoh karena markasnya di Bandung yang mana Ridwan Kamil
pernah menjadi walikota.
Persaingan
panas pilkada Jakarta, terutama yang terjadi pada paslon Ridwan Kamil-Suswono versus
Pramono Anung. Jika ditinjau dari segi etnis dimana sekitar 35 persen penduduk
Jakarta adalah dan sekitar 26 persen adalah Betawi, dimana Rano Karno identk dengan tokoh Doel yang mereprensentasikan sebagai Betwai, maka dipastika jika dukungan
mereka lebih banyak ke paslon Pramon-Rano, meski hal ini tidak bisa dijadikan indikator mutlak karena penduduk Jakarta adalah penduduk yang memiliki pandangan
politik yang dewasa dan lebih rasional dalam memilih, selain itu dukungan mantan
presiden, Joko Widodo, kepada Ridwan Kamil menjadi sebuah nilai lebih.
Hingga H-7
hasil Survei Polmark Indonesia mencatat Pramono-Rano meraih elektabilitas
tertinggi dengan perolehan 40,3 persen. Mengungguli RK-Suswono dengan 34,8
persen, dan Dharma-Kun di angka 3,2 persen. Demikian juga dengan lembaga survei
lain memiliki angka yang tidak jauh berbeda dimana Paslon nomor tiga unggul
dari Paslon lain. Tetapi pilihan akan terjadi pada 27 november 2024, kita
menunggu pilihan penduduk Jakarta. Pemilu damai, pemilu indah.

Komentar
Posting Komentar